Better Off without God?

View: New views
3 Messages — Rating Filter:   Alert me  

Better Off without God?

by bhirawa moerdaya :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

http://buletinpillar.org/index.php?id=45&tx_ttnews%5BpS%5D=1196492400&tx_ttnews%5BpL%5D=2678399&tx_ttnews%5Barc%5D=1&tx_ttnews%5Btt_news%5D=263&tx_ttnews%5BbackPid%5D=44&cHash=0bc74c3f27
 
---cut---
Sejauh ini, sejarah menjadi saksi bahwa Marxisme, Eksistensialisme, Atheisme tidak bisa menyelesaikan masalah existential manusia. Sejarah sudah menunjukkan bahwa komunisme sudah gagal. Ide yang kesannya paling menjunjung harkat manusia malah jadi sarana untuk violate banyak sekali hak asasi manusia.. Di sisi lain, Eksistensialisme hanya menunjuk kepada kekosongan hidup, walaupun setidaknya Eksistensialisme lebih jujur dan terbuka untuk mengakui kenapa mereka tidak mau percaya kepada Tuhan. Mereka mengakui bahwa dalam tiap jiwa manusia terdapat kekosongan atau keterasingan yang tidak bisa disembuhkan. Heiddeger yang menjadi tokoh penting Eksistensialisme harus mengakui motivasi manusia dari kebudayaan tinggi sampai menjajah orang lain ialah keterasingan atau kekosongan dalam jiwa mereka. Keterasingan yang tidak bisa disembuhkan itu sebenarnya adalah versi sekuler dari “kejatuhan manusia” yang dicatat di Alkitab, yaitu ketika dosa memisahkan manusia
 dari Tuhan (alienation from God). It is remarkable to see that such conclusion had been said 2000 years ago, sewaktu Yesus berkata kepada perempuan Samaria di kitab Yohanes pasal 4:
 
4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
 
Yang satu melakukan sesuatu karena kekosongan jiwanya, sedangkan yang satu lagi karena kepenuhan jiwanya. Inilah beda ada dan tidak adanya Tuhan dalam hati manusia—and Christ is the only hope to solve this. Tuhan sudah ada di sini, tidak usah dibuktikan lagi. Usaha membuktikan keberadaan Tuhan hanyalah usaha yang mau membuktikan sebaliknya. Kalau kita mau kompromi dengan standar ‘tuhan’ yang dibuat orang sekuler, dan ‘berhasil’ membuktikan bahwa ‘dia’ ada, maka itu hanyalah konfirmasi kalau ‘tuhan’ seperti itu emang tidak pernah ada! Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta itu adalah Tuhannya orang Kristen? Absurd conclusion. Apalagi kalau ada yang mengklaim telah menemukan ‘bukti-bukti’-nya.
---cut---
 
http://buletinpillar.org/index.php?id=45&tx_ttnews%5BpS%5D=1196492400&tx_ttnews%5BpL%5D=2678399&tx_ttnews%5Barc%5D=1&tx_ttnews%5Btt_news%5D=263&tx_ttnews%5BbackPid%5D=44&cHash=0bc74c3f27
 
salam,
bhirawa_m
penganut buddhisme
 


     

Better Off without God?

by semar samiaji :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

he..he..he..bagus juga tulisannya Mas....silahkan kaji ini ya Mas...
 

saat Tuhan MAU tunjukkan bukti2nya, apakah itu adalah BUKAN bukti Mas?
saat berjuta-juta manusia sebut dan yakini bahwa setiap UTUSAN TUHAN hadir di muka bumi dan UJUDkan satu tatanan indah dalam HIDUP dan KEHIDUPAN, apakah itu BUKAN bukti Mas?
berapa banyak manusia yang TERJEBAK dalam penyangkalan dengan segala BENTUKnya karena kepandaian OTAKnya Mas, sehingga TUHAN pun di cari dan di definisikan menurut paham ini dan itu? Padahal, BELUM TENTU itu adalah KESUJATIAN, bagaimana dengan ini Mas?
pembuktian diperlukan karena manusia memang diberi akal sehat dan hati nurani, hanya saat membuktikan perlu KESADARAN bahwa semua itu amat sangat tergantung KETAATAN diri kepada SURI TAULADAN manusia-manusia yang BENAR2 sudah pernah UJUDkan hal tersebut, jika tidak demikian maka manusia satu akan saling mengekor kepada manusia yang BUKAN haknya memberi suri tauladan, bagaimana dengan ini Mas?
mau lihat bukti?..punten..punten...coba kaji....saat seorang anak manusia bernama SIDHARTA GAUTAMA masih di lingkungan yang "mewah", beliau berjalan ke luar lingkungan tersebut dan akhirnya, membuat AKAL SEHAT dan HATI NURANInya bekerja...koq ada di sekitarnya WARNA kehidupan yang berbeda dengan yang selama ini dijalaninya?...so, waktu pun berjalan, hingga beliau memperoleh satu PEMAHAMAN TOTAL terhadap apa itu UJUD Kuasa dan Ijin Tuhan, maka KELUARLAH beliau kepada satu lingkungan yang TOTALLY DIFFERENT...sehingga beliau MASUK ke dalam hidup dan kehidupan sebagai MANUSIA PENYEIMBANG....sekali lagi saya highlight, beliau BERSEDIA tinggalkan UJUD kehidupan mewah yang seharusnya beliau NIKMATI dengan mudah, tanpa perlu bekerja keras....kira2 kenapa Mas?....dan itu SUDAH memberikan BUKTI bahwa SURI TAULADAN yang diberikan atau diwariskan kepada umat manusia TANPA nyang..nyeng..nyong...sampai dengan saat ini, nama beliau masih dikenang dan dihormati oleh
 sebagian umat manusia...pertanyaan: "apakah suri tauladan itu SUDAH dijalani oleh setiap individu sehingga memperoleh atau mencapai sebagai mana yang beliau capai?"...lihat aja pakai mata biasa kiri dan kanan....lalu, tanyakan kepada HATI NURANI diri...silahkan menjawabnya....
dengan uraian singkat di atas, "perlu teori atau kotak2 ini dan itu?"...silahkan kembali kepada AKAL SEHAT dan HATI NURANI masing2....silahkan pilih...
 
salam,
ss
--- On Wed, 7/9/08, bhirawa moerdaya <bhirawa_moerdaya@...> wrote:

From: bhirawa moerdaya <bhirawa_moerdaya@...>
Subject: [Spiritual-Indonesia] Better Off without God?
To: ateis@..., religionspirituality@..., spiritual-indonesia@...
Date: Wednesday, July 9, 2008, 12:37 PM











http://buletinpilla r.org/index. php?id=45&tx_ttnews%5BpS% 5D=1196492400&tx_ttnews%5BpL% 5D=2678399&tx_ttnews%5Barc% 5D=1&tx_ttnews%5Btt_ news%5D=263&tx_ttnews%5BbackPid %5D=44&cHash=0bc74c3f27
 
---cut---
Sejauh ini, sejarah menjadi saksi bahwa Marxisme, Eksistensialisme, Atheisme tidak bisa menyelesaikan masalah existential manusia. Sejarah sudah menunjukkan bahwa komunisme sudah gagal. Ide yang kesannya paling menjunjung harkat manusia malah jadi sarana untuk violate banyak sekali hak asasi manusia. Di sisi lain, Eksistensialisme hanya menunjuk kepada kekosongan hidup, walaupun setidaknya Eksistensialisme lebih jujur dan terbuka untuk mengakui kenapa mereka tidak mau percaya kepada Tuhan. Mereka mengakui bahwa dalam tiap jiwa manusia terdapat kekosongan atau keterasingan yang tidak bisa disembuhkan. Heiddeger yang menjadi tokoh penting Eksistensialisme harus mengakui motivasi manusia dari kebudayaan tinggi sampai menjajah orang lain ialah keterasingan atau kekosongan dalam jiwa mereka. Keterasingan yang tidak bisa disembuhkan itu sebenarnya adalah versi sekuler dari “kejatuhan manusia” yang dicatat di Alkitab, yaitu ketika dosa memisahkan manusia
 dari Tuhan (alienation from God). It is remarkable to see that such conclusion had been said 2000 years ago, sewaktu Yesus berkata kepada perempuan Samaria di kitab Yohanes pasal 4:
 
4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,
4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."
 
Yang satu melakukan sesuatu karena kekosongan jiwanya, sedangkan yang satu lagi karena kepenuhan jiwanya. Inilah beda ada dan tidak adanya Tuhan dalam hati manusia—and Christ is the only hope to solve this. Tuhan sudah ada di sini, tidak usah dibuktikan lagi. Usaha membuktikan keberadaan Tuhan hanyalah usaha yang mau membuktikan sebaliknya. Kalau kita mau kompromi dengan standar ‘tuhan’ yang dibuat orang sekuler, dan ‘berhasil’ membuktikan bahwa ‘dia’ ada, maka itu hanyalah konfirmasi kalau ‘tuhan’ seperti itu emang tidak pernah ada! Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan yang menciptakan alam semesta itu adalah Tuhannya orang Kristen? Absurd conclusion. Apalagi kalau ada yang mengklaim telah menemukan ‘bukti-bukti’- nya.
---cut---
 
http://buletinpilla r.org/index. php?id=45&tx_ttnews%5BpS% 5D=1196492400&tx_ttnews%5BpL% 5D=2678399&tx_ttnews%5Barc% 5D=1&tx_ttnews%5Btt_ news%5D=263&tx_ttnews%5BbackPid %5D=44&cHash=0bc74c3f27
 
salam,
bhirawa_m
penganut buddhisme
 
 














     

Re: Better Off without God?

by benediktus_sudjanto :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message


God,
Be God,
To be God,
-------------
To be,
  Or,
  Not To be?
--------------
Enjoy the "Or" and decide.

Enjoy aja,
sudjanto

--- In Spiritual-Indonesia@..., semar samiaji
<kind_evil_06@...> wrote:
>
> he..he..he..bagus juga tulisannya Mas....silahkan kaji ini ya Mas...
>
>
> saat Tuhan MAU tunjukkan bukti2nya, apakah itu adalah BUKAN bukti Mas?
> saat berjuta-juta manusia sebut dan yakini bahwa setiap UTUSAN TUHAN
hadir di muka bumi dan UJUDkan satu tatanan indah dalam HIDUP dan
KEHIDUPAN, apakah itu BUKAN bukti Mas?
> berapa banyak manusia yang TERJEBAK dalam penyangkalan dengan segala
BENTUKnya karena kepandaian OTAKnya Mas, sehingga TUHAN pun di cari dan
di definisikan menurut paham ini dan itu? Padahal, BELUM TENTU itu
adalah KESUJATIAN, bagaimana dengan ini Mas?
> pembuktian diperlukan karena manusia memang diberi akal sehat dan hati
nurani, hanya saat membuktikan perlu KESADARAN bahwa semua itu amat
sangat tergantung KETAATAN diri kepada SURI TAULADAN manusia-manusia
yang BENAR2 sudah pernah UJUDkan hal tersebut, jika tidak demikian maka
manusia satu akan saling mengekor kepada manusia yang BUKAN haknya
memberi suri tauladan, bagaimana dengan ini Mas?
> mau lihat bukti?..punten..punten...coba kaji....saat seorang anak
manusia bernama SIDHARTA GAUTAMA masih di lingkungan yang "mewah",
beliau berjalan ke luar lingkungan tersebut dan akhirnya, membuat AKAL
SEHAT dan HATI NURANInya bekerja...koq ada di sekitarnya WARNA kehidupan
yang berbeda dengan yang selama ini dijalaninya?...so, waktu pun
berjalan, hingga beliau memperoleh satu PEMAHAMAN TOTAL terhadap apa itu
UJUD Kuasa dan Ijin Tuhan, maka KELUARLAH beliau kepada satu lingkungan
yang TOTALLY DIFFERENT...sehingga beliau MASUK ke dalam hidup dan
kehidupan sebagai MANUSIA PENYEIMBANG....sekali lagi saya highlight,
beliau BERSEDIA tinggalkan UJUD kehidupan mewah yang seharusnya beliau
NIKMATI dengan mudah, tanpa perlu bekerja keras....kira2 kenapa
Mas?....dan itu SUDAH memberikan BUKTI bahwa SURI TAULADAN yang
diberikan atau diwariskan kepada umat manusia TANPA
nyang..nyeng..nyong...sampai dengan saat ini, nama beliau masih dikenang
dan dihormati oleh
>  sebagian umat manusia...pertanyaan: "apakah suri tauladan itu SUDAH
dijalani oleh setiap individu sehingga memperoleh atau mencapai sebagai
mana yang beliau capai?"...lihat aja pakai mata biasa kiri dan
kanan....lalu, tanyakan kepada HATI NURANI diri...silahkan
menjawabnya....
> dengan uraian singkat di atas, "perlu teori atau kotak2 ini dan
itu?"...silahkan kembali kepada AKAL SEHAT dan HATI NURANI
masing2....silahkan pilih...
>
> salam,
> ss
> --- On Wed, 7/9/08, bhirawa moerdaya bhirawa_moerdaya@... wrote:
>
> From: bhirawa moerdaya bhirawa_moerdaya@...
> Subject: [Spiritual-Indonesia] Better Off without God?
> To: ateis@..., religionspirituality@...,
spiritual-indonesia@...

> Date: Wednesday, July 9, 2008, 12:37 PM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> http://buletinpilla r.org/index. php?id=45&tx_ttnews%5BpS%
5D=1196492400&tx_ttnews%5BpL% 5D=2678399&tx_ttnews%5Barc%
5D=1&tx_ttnews%5Btt_ news%5D=263&tx_ttnews%5BbackPid
%5D=44&cHash=0bc74c3f27
>
> ---cut---
> Sejauh ini, sejarah menjadi saksi bahwa Marxisme, Eksistensialisme,
Atheisme tidak bisa menyelesaikan masalah existential manusia. Sejarah
sudah menunjukkan bahwa komunisme sudah gagal. Ide yang kesannya paling
menjunjung harkat manusia malah jadi sarana untuk violate banyak sekali
hak asasi manusia. Di sisi lain, Eksistensialisme hanya menunjuk kepada
kekosongan hidup, walaupun setidaknya Eksistensialisme lebih jujur dan
terbuka untuk mengakui kenapa mereka tidak mau percaya kepada Tuhan.
Mereka mengakui bahwa dalam tiap jiwa manusia terdapat kekosongan atau
keterasingan yang tidak bisa disembuhkan. Heiddeger yang menjadi tokoh
penting Eksistensialisme harus mengakui motivasi manusia dari kebudayaan
tinggi sampai menjajah orang lain ialah keterasingan atau kekosongan
dalam jiwa mereka. Keterasingan yang tidak bisa disembuhkan itu
sebenarnya adalah versi sekuler dari "kejatuhan manusia" yang
dicatat di Alkitab, yaitu ketika dosa memisahkan manusia
>  dari Tuhan (alienation from God). It is remarkable to see that such
conclusion had been said 2000 years ago, sewaktu Yesus berkata kepada
perempuan Samaria di kitab Yohanes pasal 4:
>
> 4:13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus
lagi,
> 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia
tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan
kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus
memancar sampai kepada hidup yang kekal."
>
> Yang satu melakukan sesuatu karena kekosongan jiwanya, sedangkan yang
satu lagi karena kepenuhan jiwanya. Inilah beda ada dan tidak adanya
Tuhan dalam hati manusia—and Christ is the only hope to solve this.
Tuhan sudah ada di sini, tidak usah dibuktikan lagi. Usaha membuktikan
keberadaan Tuhan hanyalah usaha yang mau membuktikan sebaliknya. Kalau
kita mau kompromi dengan standar `tuhan' yang dibuat orang
sekuler, dan `berhasil' membuktikan bahwa `dia' ada,
maka itu hanyalah konfirmasi kalau `tuhan' seperti itu emang
tidak pernah ada! Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan yang menciptakan
alam semesta itu adalah Tuhannya orang Kristen? Absurd conclusion.
Apalagi kalau ada yang mengklaim telah menemukan `bukti-bukti'-
nya.
> ---cut---
>
> http://buletinpilla r.org/index. php?id=45&tx_ttnews%5BpS%
5D=1196492400&tx_ttnews%5BpL% 5D=2678399&tx_ttnews%5Barc%
5D=1&tx_ttnews%5Btt_ news%5D=263&tx_ttnews%5BbackPid
%5D=44&cHash=0bc74c3f27
>
> salam,
> bhirawa_m
> penganut buddhisme
>
>


LightInTheBox - Buy quality products at wholesale price