Apa yang kita sombongkan ?

View: New views
9 Messages — Rating Filter:   Alert me  

Apa yang kita sombongkan ?

by Mochlas Hendra :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Apa yang kita sombongkan ??

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia
melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan
ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya
bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu
bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi
saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya
memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun
tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya
merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan.
Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong
saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua,
yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di
tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa
lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita
merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan
dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh
faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral,
lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang
menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di
dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang
berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam
bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-
confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi
kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan
kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita
dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring
dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari
sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu
mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup
cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang
memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan
kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala
permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan
menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan
segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita
lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita
bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita
adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk
hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita
pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan
membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita
tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan
segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak
dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari
berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari
bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-
mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu
kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini
berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada
dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita
dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan
kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna
hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat
baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada
diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Salam
Hendra


Re: Apa yang kita sombongkan ?

by benediktus_sudjanto-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Kesadaran diri yang belum tersadari.

--- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
<hendramochlas@...> wrote:

>
> Apa yang kita sombongkan ??
>
> Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia
> melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan
> ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya
> bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu
> bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi
> saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya
> memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun
> tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya
> merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan.
> Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong
> saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua,
> yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di
> tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa
> lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.
> Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita
> merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan
> dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh
> faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral,
> lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang
> menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
> mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
> sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
> terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di
> dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang
> berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam
> bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-
> confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi
> kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan
> kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.
> Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan
> kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita
> dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring
> dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari
> sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu
> mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup
> cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang
> memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan
> kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala
> permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan
> menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan
> segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita
> lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita
> bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita
> adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk
> hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita
> pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan
> membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita
> tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan
> segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak
> dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari
> berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari
> bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-
> mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu
> kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini
> berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada
> dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita
> dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan
> kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna
> hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat
> baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada
> diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
>
> Salam
> Hendra
>



Re: Apa yang kita sombongkan ?

by Mochlas Hendra :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Yang benar yang mana nih... kesadaran diri atau profesionalisme ?


Re: Apa yang kita sombongkan ?

by benediktus_sudjanto-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

tergantung kebersihan hati yang berharap dalam kasih.

--- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
<hendramochlas@...> wrote:
>
> Yang benar yang mana nih... kesadaran diri atau profesionalisme ?
>



Re: Apa yang kita sombongkan ?

by Mochlas Hendra :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Setiap orang buth dan akan memberi kasih itu.. tinggal mau atau
tidak... kebersihan hati tidak secara langsung berkaitan dengan
harapan mendapatkan kasih... dua hal yang berbeda namun bisa
bersentuhan satu sama lain.. tinggal kemauan yang kuat dan pengalaman
yang baik akan menjadi acuan perkembangannya...


Re: Apa yang kita sombongkan ?

by benediktus_sudjanto-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Setiap orang 'dalam' Kasih.

--- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
<hendramochlas@...> wrote:
>
> Setiap orang buth dan akan memberi kasih itu.. tinggal mau atau
> tidak... kebersihan hati tidak secara langsung berkaitan dengan
> harapan mendapatkan kasih... dua hal yang berbeda namun bisa
> bersentuhan satu sama lain.. tinggal kemauan yang kuat dan pengalaman
> yang baik akan menjadi acuan perkembangannya...
>



Re: Apa yang kita sombongkan ?

by Mochlas Hendra :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Kasih tak sampai... itu kan judul novel he he he....

--- In Spiritual-Indonesia@..., "benediktus_sudjanto"
<benediktus_sudjanto@...> wrote:

>
> Setiap orang 'dalam' Kasih.
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
> <hendramochlas@> wrote:
> >
> > Setiap orang buth dan akan memberi kasih itu.. tinggal mau atau
> > tidak... kebersihan hati tidak secara langsung berkaitan dengan
> > harapan mendapatkan kasih... dua hal yang berbeda namun bisa
> > bersentuhan satu sama lain.. tinggal kemauan yang kuat dan
pengalaman
> > yang baik akan menjadi acuan perkembangannya...
> >
>



Re: Apa yang kita sombongkan ?

by benediktus_sudjanto-3 :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Menggapai Kasih dalam Kasih, manusia kadang perlu menulis dan membaca
Novel.

--- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
<hendramochlas@...> wrote:

>
> Kasih tak sampai... itu kan judul novel he he he....
>
> --- In Spiritual-Indonesia@..., "benediktus_sudjanto"
> <benediktus_sudjanto@> wrote:
> >
> > Setiap orang 'dalam' Kasih.
> >
> > --- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
> > <hendramochlas@> wrote:
> > >
> > > Setiap orang buth dan akan memberi kasih itu.. tinggal mau atau
> > > tidak... kebersihan hati tidak secara langsung berkaitan dengan
> > > harapan mendapatkan kasih... dua hal yang berbeda namun bisa
> > > bersentuhan satu sama lain.. tinggal kemauan yang kuat dan
> pengalaman
> > > yang baik akan menjadi acuan perkembangannya...
> > >
> >
>



Re: Apa yang kita sombongkan ?

by pku_zulona :: Rate this Message:

Reply to Author | View Threaded | Show Only this Message

Hihihihihihihi......
Sombong akan terus mengintai dari maqam terbawah sampai
keatas.....masing-masing dengan kadarnya....karena dia bagian dari
aku....keakuan...
karena ini sangat "halus".  Pujian adalah cobaan....bukan suatu
kesenangan...karena disitu akan ada yang mengintai si "sombong"...
Semakin tinggi maqam seseorang sebenarnya semakin bisa lebih kenal
dengan rasa "sombong" tersebut. Mengintai setiap saat....
Yang penting mengenal si "sombong" itu muncul....bila dia muncul itu
tidak akan enak bagi "roso"....siapa saja baik si Pelaku "sombong"
maupun orang disekitarnya.....hanya bagi pelaku biasanya yang muncul
emosi...kebanggaan..sehingga...lupa pada saat itu lagi bermain dg
si "sombong"....bagi sekitar ada rasa penguasaan, tidak nyaman, dll,
dll, dll....
bila sudah mengenalnya....sadari....minta ampun kepada
Tuhan....Mohon agar Tuhan merubahnya menjadi "Kasih" diantara
sesama....bukan kelebihan dari sesama....atau bisa juga dengan
menyadari sifat itu bukan hak....dikembalikan kepadaNya....yang mana
saja bisa...yang penting sudah tahu kapan si sombong datang...dan
kapan si sombong bisa lepas dari kita......dan yang terpenting
meminta bantuan Tuhan.......Bila dengan cara melepaskan sombong dg
keakuan semakin menjadi lebih "sombong".
semoga bermanfaat....selamat berjuang....semakin dapat
mengenalinya...semakin bisa melepaskannya....

Salam Kasih,
Lona


--- In Spiritual-Indonesia@..., "hendramochlas"
<hendramochlas@...> wrote:
>
> Apa yang kita sombongkan ??
>
> Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan.
Dia
> melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan
> ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya
> bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu
> bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru
menjawab, "Tadi
> saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya
> memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun
> tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya
> merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai
bermunculan.
> Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong
> saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita
semua,
> yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di
> tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita
merasa
> lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang
lain.
> Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita
> merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan
> dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan
oleh
> faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral,
> lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.
Yang
> menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula
kita
> mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun
> sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit
> terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di
> dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang
> berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya
dalam
> bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-
> confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi
> kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan
> kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu
jelas.
> Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub
dan
> kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita
> dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi,
seiring
> dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari
> sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu
> mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan
hidup

> cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang
> memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan
> kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala
> permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan
> menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan
> segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita
> lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita
> bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita
> adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk
> hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita
> pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan
> membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal.
Kita
> tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan
> segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak
> dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari
> berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari
> bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu
semata-

> mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu
> kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini
> berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada
> dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita
> dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan
> kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna
> hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat
> baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada
> diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?
>
> Salam
> Hendra
>


LightInTheBox - Buy quality products at wholesale price!